Khilaf & Dosa


halofandi.com - Tertuliskan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna di muka bumi ini. Kesempurnaan tersebut terlihat dari bentuk fisik, memiliki akal pikiran dan hati nurani. Semua terangkum menjadi satu kesatuan yang sempurna. 

Namun satu hal yang perlu diingat, bahwa manusia adalah makhluk yang paling mudah berbuat salah dan khilaf. Akan pikirannya mengembara mencapai arti hidup sesungguhnya. Kekayaan, kebebasan dan kekuasaan selaksa segalanya hingga merasa dunia akan ada selamanya. Nyawa akan abadi tak hengkang oleh waktu. Berlomba menjadi yang terbaik mencoba dan mencari taktik terjitu untuk mencapai tujuannya.

Terbentuklah ketamakan dalam hatinya. Menutup segala rintihan dan kesengsaraan sesama. Asalkan dirinya aman dan bahagia dan terbesit menemukan makna kebebasan yang sebebas-bebasnya. Hingga hilanglah hati nuraninya. Seakan melihat manusia yang tak memiliki kemanusiaan.

Perbuatan dosa sudah dicontohkan dari manusia pertama yang Allah kirim ke bumi. Nabi Adam a.s karena bisikan setan yang enggan tersaingi manusia hingga menentang perintah Allah SWT, sampai diturunkannya dari surga ke bumi. 

Hal tersebut berlanjut hingga keturunan Nabi Adam a.s, hingga menjadi kisah lama dan terus meruntut hingga saat ini. Ingat kaum Luth? yang merasa bahwa kesenangan adalah segalanya. Mengesampingkan adab dan moralnya sebagaimana manusia semestinya? Hingga Allah kirimkan azab yang pedih hingga tak tersisa sedikitpun kaumnya. Lenyap tersapu badai.

Ingat kaum Nabi Nuh, yang beratus tahun enggan mendengar seruan Allah lewat utusanNya? Hingga menantang sesuka hatinya bahwa mereka akan menerima segala azab yang telah diingatkan. menertawakan Nabi Nuh dan pengikutnya membangun sebuah kapal raksasa. Dan nyatanya, peringatan Allah itu nyata. Mereka yang menghiraukannya lenyap tersapu banjir bandang.

Kisah-kisah tersebut menjadi sebuah pelajaran penting bagi umat manusia saat ini, bahwa manusia hakikatnya pecinta dan penikmat dusta dan dosa. Membodohi dan membohongi dirinya sendiri dalam kemaksiatan dan kemungkaran yang menyesatkan. Berdalih bahwa hidup adalah sementara dan harus dimanfaatkan sepuas-puasnya. Hingga terjerat bahagia yang fana dan sementara. 

Padahal, kita tau, dari kisah-kisah tersebut terpampang nyata bahwa apapun yang kita lakukan akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Ganjaran tersebut bisa langsung didapatkan di bumi atau dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Namun, masih saja berani-beraninya melakukan keburukan di bumi Allah ini. karena memang manusia rawan akan khilaf dan dosa.


Kehadiran Islam

Begitu sayangnya Allah pada umat manusia yang tersesat dengan mengutus Nabi dan Rasul-Nya yang jumlahnya hingga ratusan. Hanya untuk mengingatkan agar kembali kepada jalan kebenaran. Kilauan islam menyinari bumi dari hadirnya Nabi Adam a.s. Pengenalan demi pengenalan tentang keesaan Allah telah dikumandangkan sejak manusia pertama itu hadir di bumi. 

Pada masa tersebut, Nabi Adam a.s telah mengenalkan kepada keturunannya, bahwa sesembahan yang utama hanyalah Allah. Namun karena berjalannya waktu dan perkembangan zaman, umat manusia mulai lalai dan menyembah kepada selainnya. 

Kehadiran islam bukanlah hal yang mudah dilakukan. Nabi dan Rasul diutus menjadi penyambung firman-firman-Nya yang nyata. Menghapus kebathilan dan kemungkaran yang merajalela di muka bumi. Apakah mudah dalam menyampaikannya? Sama sekali tidak! berbagai macam cobaan dan kesulitan harus dihadapi.

Melalui Nabi Ibrahim a.s, mengajarkan tentang kepasrahan dan kecerdasan akan pencarian sosok Tuhan. Pada masa itu, manusia mulai berbondong-bondong memuja berhala dari patung-patung. Melakukan berbagai kebathilan di dunia hingga kerusakan di bumi. Kecerdasannya membawanya pada kebenaran bahwa berhala tidaklah pantas untuk di sembah. Bahkan goncangan kakinya bisa menghancurkannya. Bagaimana bisa Tuhan hancur dengan begitu mudahnya. 

Meski berat perjalanan yang telah Nabi Ibrahim a.s jalani membawanya pada sebuah keyakinan yang tiada henti akan keesaan Allah. Meski menentang raja di zamannya, Nabi Ibrahim a.s tetap teguh pada pendiriannya, hingga ketika api membakar tubuhnya, Allah berikan mukjizat kepadanya. Api itu tak mampu membakarnya dan Allah SWT yang telah menolongnya. Pada zaman itulah Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun ka'bah di Makkah yang kini menjadi pusat kiblat seluruh dunia ini.

Lewat Nabi Musa a.s, Allah bebaskan kaum Yahudi untuk bebas dari jeratan perbudakan. Agar terlepas dari Fir'aun yang menganggap dirinya adalah Tuhan yang merasa pantas untuk di sembah. Namun, sebegitu besarnya kasih sayang Allah kepada manusia yang begitu angkuh dan sombong itu, hingga mengutus Nabi Musa a.s untuk memperingatinya agar kembali pada keyakinan Allah-lah yang pantas di sembah. Apalah daya, kesombongan itu bagaikan telah menyatu dengan darah dan daginya. Hingga dia memilih untuk tenggelam dalam ketamakannya dan kekal di nerakaNya.

Allah utus nabi Isa a.s dari seorang wanita mulia, Ibunda Siti Maryam. Nabi Isa a.s diutus untuk kaum Bani Israil untuk menghadapi Romawi. Dengan kecakapan dan kecerdasannya, beliau teguh dalam dakwahnya mengajak bani Israil untuk hanya menyembah Allah ta'ala.

Kelengkapan Islam diakhiri kenabian Muhammad SAW, dimana manusia semakin lalai akan siapa yang berhak mereka sembah. Berhala-berhala semakin marak dimana-mana. Dengan kesempurnaan akhlak nya, beliau berdakwah dengan wahyu yang Allah berikan berupa Al Qur'an sebagai pedoman hidup umat muslim hingga saat ini.

Dengan diutusnya para kekasih Allah di bumi, menunjukkan bahwa dengan islam harkat martabat manusia diangkat. Melawan kebathilan yang bagaikan wabah. Wanita yang tiada harganya di zaman jahiliyah, diberikan penghormatan setinggi-tingginya dengan adanya islam. Perbudakan perlu dibebaskan. Dan masih banyak hal lainnya. 


Hidayah Allah

Meski berkubang dalam khilaf dan berlumurkan dosa di sekujur tubuh. Allah terus melakukan segala upaya agar manusia tetap pada hakikatnya sebagai makhluk yang sempurna. Dengan kesempurnan yang dimiliki, perlulah diimbangi dengan batasan-batasan semestinya. Hingga mereka tak melampaui batasnya. Sesuai dengan kodrat yang telah dititipkan kepadanya. Jadi hidup dengan keseimbangan antara akal pikiran dan hati nuraninya.

Allah telah menunjukkan hidayah pada setiap manusia dengan berbagai macam caranya. Namun sudut pandang yang berbeda membuat manusia tak semuanya sadar akan kehadirannya. Sebaik-baiknya manusia adalah yang berbuat baik kepada sesama manusia. Kebebasan seseorang berbentur dengan kebebasan orang lain. Hak seseorang dibatasi juga dengan hak orang lain.

Banyak orang mengatakan bahwa perbuatannya, wataknya adalah takdir yang perlu mereka lakukan. Padahal, kebaikan dan keburukan keduanya adalah pilihan. Hanya saja ego dan ketamakan yang mana yang memenangkan pilihan. 

Takkah menajdi pelajaran kisah terdahulu, kaum-kaum yang telah menampakkan hasil dari perbuatan yang hina? Hingga menjadikan dirinya bahan bakar neraka.

Semoga dengan ini, Allah selalu melenturkan hati kita agar terbuka dengan hidayahNya. Mengingatkan kita untuk terus berjalan dalam kebaikan. Membiasakan diri untuk selalu bertaubat kepadaNya. Agar kita mampu membedakan mana yang bathil dan mana yang haq. Selalu melindungi dari berbagai macam kesesatan di dunia.. Hingga kita selamat di akhirat kelak.

Aamiin.

                                                                                                                       Semarang, 15 Juni 2020
                                                                                                                       oleh Dea Resti Ameliandari




Komentar